Senin, 09 April 2012

Sebatas belulang

Aku bukanlah rusukmu yang patah,
Aku bukanlah juliet bagimu romeo
Aku bukanlah bibir pantai bagimu samudra
Aku bukanlah pusara bagimu jenazah
Aku bukanlah prosa bagimu sastrawan

Aku hanyalah belulang pelengkap,
yang tak suka kidung tentang cinta dan duka
aku belulang yang mudah tua dan mudah keropos

Tapi, kamu tak mau dengar,
berkata aku adalah rusukmu....

Tubuhmu bukan rumahku, 
Sungguh , aku tak punya rumah.
aku hanyalah belulang pongah
yang tak butuh rumah
entah...

Aku serupa tisu bekas : Ter-abaikan

Persis setelah kamu gunakan tubuhku
untuk menghapus rembesan air matamu,
pernahkan kamu memungutku kembali?

Sempatkah tersirat di benakmu
untuk melipatku sedemikian
dan menjadikanku kapal terbang?

Sadarkah kamu?
Aku menghancurkan tubuhku,
menerima air matamu jatuh 
bertubi-tubi didadaku

Aku hanya ingin mencintaimu dengan apa adanya,
dengan cinta yang tak sempat diisyaratkan
air matamu pada tubuhku,
yang menjadikannya tiada

Sudi Untuk Sudi

Aku sudi memohon pada lelap
agar dia biarkan aku lebih lama memeluk malam

Hari itu, secangkir rindu yang hangat 
kamu sajikan di atas bantalku
serupa riakriak ngarai yang merembes

Aku sudi menahan senja lebih lama
agar kamu fasih mengenali bayang-bayang kita yang kian memanjang 
: Kenangan

Aku sudi bersekutu dengan kenangan
agar dia menghidupkan kembali "kita" yang lama

Yah, aku telah sudi untuk sudi

Kamis, 08 Maret 2012

Pertunjukan Ganjil

Sebuah gedung pementasan berdiri angkuh di depan taman kota, di suatu masa di malam itu.
dengan berteman derit langkah, aku masuk dan menyalami satu-satunya kursi yang tersenyum ramah kala kaki menginjak ruangan.
setelah berbincang dengannya, ternyata aku akan menyaksikan sebuah kabaret besar yang diperankan oleh anak-anak semesta.
Adegan pertama di mulai, sorot lampu yang arogan menderu sosok langit yang menelungkup di tengah panggung dengan ekspresi memilukan , dia mencoba mengulurkan tangannya kepada tanah, sosok lain yang terbujur kaku di sudut panggung, tanpa cahaya. 
Lampu kembali dimatikan.
Sepertinya adegan kedua akan di mulai, pikirku. Beberapa saat ruangan terlihat akrab dengan gelap, seketika hitam itu dibungkam oleh cahaya yang bermuara di atas panggung. terlihat rembulan dengan gaun pucat pasi melambai lemah.
Debaran waktu menenggelamkan senandung gadis itu,
"ada yang tak sempat kau redam, saat nyala lilin kau padamkan, lukaku yang semakin dalam"
lirihnya, suaranya bak sihir yang memaksa aku menikmati setiap derita yang disajikan ,
hingga akhirya tirai ditutup, pertunjukan selesai. 



Minggu, 19 Februari 2012

What I've learned , today.

you teach me how to deal with my self, deal with the others , deal with the world....

what ive learned today , is all about making a deal, thank you...

Mostly , people changed. 

i mean, everything's have the moment to clearly change.

i hate when the things that i'm afraid of turn becomes true

i mean, whose not?

if people consent me to have a book about you and all the things

i would divide it into 3 chapters....

1. How youve already succeed to amazing the people

2. How youve already succeed to show that ive got ure spot light

3. How youve already succeed to end up that the previous chapter is such not true

i think, people would interest with that kind of book. but... poorly, the editor isn't that succeed to deal with her self.
What ive learned yesterday, what youve teach me today, totally failed.
Because the cloud seems like covered the sun already,
looks like the editor failed to prove the mutual benefit to have you as the object, seems like the editor expect to much by giving the book on the market's hand, the book with you such an actor.
Or, the editor already upset ?

Jumat, 17 Februari 2012

Mengganggu

"Apa yang membuatku terusik?" 

diam mu....

sungguh diam mu membelengguku,

kau ciptakan kenangan yang membekukan pembuluh darah yang menghidupi rohku

kaulah "hama benak" yang paling nyata

Sekarang...

Kehadiranmu bagai malaikat pencabut asa

kau ciptakan ketakutan dari seribu aksara buatan sang maestro muda

sungguh mengganggu....

Aku Aksara Tanpa Suara

Aku aksara tanpa suara. Hadirku lahirkan kata. Lahirkan alinea. Lahirkan makna. Dan denganku, ku bantu kau ungkapkan rasa.
Aku aksara tanpa suara. Hadirku pelintas waktu, penebas masa. Menjadi saksi setiap peristiwa. Dari zaman ramayana hingga milenia
Aku aksara tanpa suara. Kau susun aku dengan ribuan cara. Kau baca aku dengan berbagai macam bahasa.
Aku aksara tanpa suara. Hadirku penjelas rahasia, pembawa berita, bahkan dari dulu kala.  Kau tuliskan aku di mana saja, mulai pelepah kurma hingga di hati manusia
Aku aksara tanpa suara. Dengan ku, ku bantu kau buat ragam kisah dan cerita lalu kau sebar lintas benua, dari asia hingga eropa
Aku aksara tanpa suara. Dengan ku,  ku bantu kau susun nama-nama, sehingga dengannya diingat dia dari segala penjuru dunia
Aku aksara tanpa suara. hadirku lahirkan milyaran cerita, puisi, hingga prosa. denganku ku buat dunia penuh warna
Aku aksara tanpa suara. Ku bantu setiap lelaki bermain kata. sehingga terpesonalah para wanta yang mendengarnya
Aku aksara tanpa suara. Meski tak bersuara. Ku bantu kau berbicara. Karena itu, jangan pandangku sebelah mata. tanpa ku, kau-manusia bukan apa – apa